Jumat, 09 Mei 2008

Bunga Melati, Karakter Wanita Indonesia

Bunga melati merupakan salah satu jenis bunga yang memiliki kelebihan dari bunga lain, diantaranya warna yang putih, bau yang harum dan tak mudah rontok meskipun ukurannya keci, Seperti itulah seharusnya wanita Indonesia.

Hampir setiap negara di dunia memiliki apa yang disebut sebagai bunga bangsa. Seperti Belanda, dengan tulipnya, Jepang dengan sakuranya, dan Indonesia dengan melatinya. Perlu diketahui, bunga-bunga yang dimiliki suatu negara sesungguhnya dapat menjadi cerminan karakter perempuan bangsa itu sendiri.

Misalnya, sosok wanita Indonesia seringkali diidentikan dengan sosok bunga melati. Melati merupakan bunga yang memiliki warna putih dan warna ini merupakan symbol keiklasan dan kejujuran seseorang.

Semua spesies melati berwarna putih, dan melati tak pernah iri dengan tulip, mawar dan bunga-bunga lain yang memiliki banyak warna dalam spesies yang berbeda. Hal ini cerminan bahwa wanita Indonesia adalah sosok wanita yang tak mudah iri dengan gemerlap dan warna-warninya dunia.

Melati adalah bunga yang menghadirkan semerbak harumnya yang khas. Bahkan keharumannnya tidak hanya dimanfaatkan untuk wewangian sejenis parfum ataupun pengharum ruangan. Tapi juga menjadikan khas aroma teh cita rasa Indonesia. Artinya, dimanapun perempuan Indonesia berada, sebagai apapun dia, dia harus mampu membawa dirinya.

Dengan ukurannnya yang kecil tersebut, melati tak mudah rontok di terpa angin, ini sebagai simbol bahwa wanita Indonesia adalah sosok wanita yang tegar dalam menghadapi cobaan yang setiap saat menerjang. Selanjutnya, kuncup ataupun mekarnya bunga melati tak pernah terlihat angkuh ataupun minder. Ia selalu terlihat anggun berbalut kewibawaan dalam kesederhanan putih mahkotanya, begitulah seharusnya wanita Indonesia.

Kartini, Sosok Wanita Visioner

Kartini adalah sosok wanita Indonesia yang cerdas nan mulia. Tapi miris, wanita Indonesia saat ini justru semakin jauh dari semangat Kartini, yaitu semangat untuk mencerdaskan bangsa. Ada sebuah ungkapan bahwa masa depan suatu bangsa dapat dilihat dari generasi mudanya saat ini. Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April sepertinya hanya angina berlalu yang terasa sesaat.

Beragam acara televisi mengangkat tema perempuan. Bahkan sebuah acara talk show salah satu televisi swasta, yang diadopsi dari negeri paman sam pun dipilih dengan bertema perempuan. Dari berbagai acara yang bertema perempuan tersebut, ternyata diperoleh kesimpulan bahwa pandangan perempuan Indonesia terhadap peran perempuan tidak jauh dari isu gender yang menjauhkan perempuan dari “rumahnya”, yaitu kodratnya sebagai wanita.

Sementara dalam acara talk show Amerika yang menghadirkan bintang tamu tokoh-tokoh perempuan dari Argentina, Kanada, dan Amerika, justru memiliki opini yang bertolak belakang dengan opini perempuan Indonesia yang mengaku modern. Perempuan dari salah satu benua yang selalu jadi trend setter dunia ini justru kompak mengatakan bahwa perempuan harus dikembalikan lagi kerumahnya dan dipenuhi hak-haknya, yaitu hak perlindungan, hak rasa aman, dan hak pendidikan untuk membentuk keutuhan pribadi generasi selanjutnya.

“Jka anda mendidik seorang laki-laki maka anda hanya mendidik seorang manusia, namun bila anda mendidik seorang perempuan maka anda telah mendidik seluruh manusia”. Demikian ungkapan yang sering kita dengarkan.

Lalu, bagaimana dengan Kartini ?

Kartini adalah sosok perempuan yang visioner yang memiliki tujuan hidup jelas, yaitu mencerdaskan kaumnya. Setiap langkah dan keputusan yang diambil adalah bagian dari misinya. Bahkan, sebuah keputusan agung dalam pernikahannya dengan seorang laki-laki beristri tiga adalah bagian langkah besar untuk mencapai cita-citanya.

Tak mudah bagi perempuan manapun untuk menikah dengan seorang laki-laki yang telah memiliki 3 orang istri. Namun, meski Kartini adalah istri keempat atau juru kunci. Tapi, justru beliaulah yang memiliki kedudukan sebagai garwo pati (dibaca;istri sah) dari Bupati Rembang, sedangkan tiga wanita lainnya hanyalah selir. Dalam sebuah tulisannya, bunda Kartini bertutur

“Akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya berada di samping seorang laki-laki yang cakap,”

Kartini memandang pernikahan bukan sebagai tempat memadu kasih semata, apalagi menganggapnya sebagai suatu hal yang hanya akan menambah pekerjaannya. Tapi, Kartini menjadikan pernikahan sebagai sebuah kekuatan besar untuk menggapai cita-citanya terhadap kaumnya dimasa yang akan datang. Semua pasti akan bertanya, kenapa Kartini justru memilih menikah dengan pria yang jauh lebih berumur dan sudah punya tiga istri, juga berbadan tiga.

Kenapa Kartini tidak memilih menikah dengan seorang bujangan yang tampan yang sudah ngantri panjang untuk menikahinya? Alasannya satu, kartini membutuhkan kekuatan besar untuk cita-citanya. Maka beliau menerima pinangan pria paruh baya yang kita ketahui bersama beliau adalah Bupati Rembang kala itu.

Karena beliau perempuan yang cerdas dan punya latar belakang bangsawan maka kedudukan dan kekuatannya jelas, beliau mensyaratkan harus berkedudukan sebagai garwo pati. Sangat berbeda saat ini, yang justru menganggap kumpul kebo sebagai suatu bentuk kemerdekaan wanita.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa beliau memilih Bupati Rembang?, bukan Bupati lainnya. Alasannya adalah Kartini tahu bahwa sang Bupati adalah sosok pria yang cakap dan moderat meski saat itu Belanda masih memiliki otoritas yang kuat.

Jadi, bunda tak hanya memandang sang Bupati dari kekuasaannya saja tapi juga pemikirannya. Sekitar 3 bulan setelah pernikahannya, Kartini diijinkan mendirikan sekolah perempuan dan diberikan bangunan untuk sekolah pertama, yang tak jauh dari kediamannya.

Ini dimaksudkan agar beliau tetap dekat dengan keluarganya. Sekarang coba kita bayangkan jika bunda menikah dengan bujangan yang belum memiliki kekuasaan ataupun otoritas daerah maka akan lebih sulit, untuk mendirikan sebuah sekolah perempuan.

Tak ada pengorbanan Kartini, yang sia-sia. Rasa sakitnya menjadi Istri ke-4 tebayar lunas dengan keberhasilan dalam mencerdaskan kaumnya, bahkan, beliau menjadi istri kesayangan sang Bupati.

Tapi sayang, usia Kartini tak sepanjang citanya. Beliau meninggal dunia setelah melahirkan putra pertamanya. Disebutkan dalam sejarah hidup Kartini, sebenarnya Kartini melahirkan putranya secara normal. Proses persalinannya kala itu dibantu oleh seorang bidan Belanda. Tapi karena dianggap bayinya terlalu besar maka disuntikan kepada Kartini semacam obat penguat yang justru bermuara pada kematian sang pejuang hak wanita yang sesungguhnya.

“selamat Jalan Bunda”

“semoga visimu yang sesungguhnya dapat diterima sejalan dengan perempuan-perempuan Indonesia bahkan dunia.